1.1.1. berperilaku yang berkaitan dengan konteks sosial, yang lekat

1.1.1.     
Pengertian Intensi Kewirausahaan

Berdasarkan teori planned behavior milik Ajzen
(2005), Liñán, dkk. (2008) membangun model intensi kewirausahaan. Penggunaan
teori planned behavior sebagai landasan Liñán, dkk. ini dilatarbelakangi
oleh pengambilan keputusan seseorang untuk berperilaku yang berkaitan dengan
konteks sosial, yang lekat dengan teori planned behavior yang telah
penulis paparkan sebelumnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bird (1988, dalam Liñán, 2008) berpendapat bahwa intensi
kewirausahaan telah lama dianggap sebagai elemen kunci untuk memahami bagaimana
proses terbentuknya perusahaan baru. Keputusan untuk membuat usaha atau bisnis
baru tidak hanya sekadar paham mengenai bagaimana caranya serta merasa mampu
melakukannya, ada beberapa elemen penting lain yang juga harus dipertimbangkan
(Ajzen, 1991, dalam Liñán, 2008).

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa intensi
kewirausahaan adalah suatu konstruk yang mengacu pada kesungguhan niat
seseorang untuk melakukan perbuatan atau memunculkan perilaku berwirausaha.
Intensi tersebut memainkan peranan yang khas dalam mengarahkan tindakan, yakni
menjadi penghubung antara pertimbangan yang mendalam yang diyakini dan
diinginkan oleh seseorang dengan tindakan tertentu.

1.1.2.      Dimensi Intensi Kewirausahaan

1.1.2.1.   Attitude
Toward Behavior

Sikap
individu terhadap suatu tingkah laku berhubungan erat dengan kemungkinan
individu melakukan tingkah laku tersebut. Menurut Ajzen (1991), melalui
pengukuran terhadap sikap individu, tingkah laku yang akan muncul dapat
diprediksikan. Konsep ini juga memberikan pemahaman tentang mengapa seorang
individu memunculkan atau gagal memunculkan beberapa kecenderungan tingkah
laku.

Sikap
ini secara umum menggambarkan evaluasi negatif atau positif seseorang terhadap
minatnya melakukan tingkah laku tertentu. Sikap personal juga menggambarkan
persepsi seseorang mengenai keinginan personal dalam menampilkan tingkah laku.
Lebih lanjut, Ajzen (1991) mengemukakan bahwa sikap ini dipengaruhi oleh
pengalaman hidup, karakteristik pribadi, dan persepsi terhadap pengalaman hidup
tersebut.

1.1.2.2.   Perceived Social Norms

Faktor kedua yang membentuk intensi menurut teori planned behavior adalah persepsi
seseorang terhadap tekanan sosial untuk menampilkan atau tidak menampilkan
tingkah laku yang disadari. Faktor ini dikenal dengan norma subjektif (subjective norms). Norma subjektif
mencakup pentingnya anggapan dari orang yang signifikan dalam hidup responden
mengenai tingkah laku tersebut, antara lain orangtua/keluarga, teman,
lingkungan masyarakat tempat individu tersebut tinggal, dan sebagainya

1.1.2.3.   Perceived
Behavioral Control

Faktor
ketiga adalah kemampuan yang dipersepsikan untuk menampilkan dan mengontrol
faktor-faktor dalam melakukan tingkah laku tertentu. Faktor ini menyatakan
bahwa individu memiliki kendali untuk memunculkan suatu perilaku atau tidak.
Pada konteks kewirausahaan, perceived behavioral control merupakan
keyakinan akan dukungan atau hambatan untuk melakukan kegiatan berwirausaha
(Liñán, dkk., 2008).

1.1.3.     
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Intensi Kewirausahaan

Penelitian
terdahulu mengenai intensi kewirausahaan kerap dikaitkan dengan tiga faktor,
yakni faktor kepribadian, kontekstual atau lingkungan, serta faktor demografis
(Gurol & Atsan, 2006, dalam Nishanta, 2009).

1.1.3.1.   Faktor Kepribadian

Faktor kepribadian merupakan faktor yang memiliki
hubungan terkuat terhadap intensi kewirausahaan karena pola sifat adalah
relatif permanen dan unik yang konsisten dalam membentuk perilaku seseorang
(Feist & Feist, 2009). Faktor individu yang berpengaruh terhadap intensi
kewirausahaan seseorang, antara lain:

1.   Self-efficacy

Self-efficacy digunakan untuk menjelaskan perilaku
manusia oleh Bandura (1997, dalam Naktiyok, dkk., 2010) yang
berasal dari teori belajar sosial, yakni keyakinan tentang kemampuan seseorang
untuk mengorganisir dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapai
sesuatu. Seseorang menentukan dan memilih jalur karirnya sesuai dengan persepsi
mereka akan kemampuannya, sehingga asesmen mengenai kapasitas personalnya
mengarahkan seseorang untuk bersiap dan memasuki pekerjaan yang dirasa mampu
untuk dijalani, namun menghindari pekerjaan yang dirasa sebaliknya (Chen, dkk.,
1998, dalam Naktiyok, dkk., 2010). Peran faktor kepribadian satu ini telah
sering ditekankan dalam penelitian yang berkaitan dengan kewirausahaan (Indarti
& Rostiani, 2008; Naktiyok, dkk., 2010; Utaminingtyas, dkk., 2011; Dinis,
dkk, 2013).

2.   Need of achievement

McClelland (1976, dalam Indarti & Nastiti, 2010) mengenalkan
konsep need of achievement (kebutuhan
untuk berprestasi) sebagai salah satu motivasi psikologis, yang didefinisikan
sebagai kesatuan karakter yang memotivasi seseorang untuk menghadapi tantangan
menuju kesuksesan (Lee, 1997, dalam Indarti & Nastiti, 2010). Menurut
McClelland (1976, dalam Indarti & Nastiti, 2010), orang-orang yang dengan need of achievement tinggi lekat dengan
sifat-sifat seperti ingin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan,
mengambil risiko sesuai dengan kemampuannya, serta termotivasi untuk belajar
dari keputusan yang diambilnya, sehingga high
achievers akan memiliki intensi yang tinggi untuk memberikan usaha terbaik
demi mencapai tujuannya. Faktor kepribadian yang satu inilah yang paling
membedakan antara wirausahawan dan nonwirausahawan.

3.   Locus of control

Faktor individu lain yang memengaruhi intensi
kewirausahaan adalah locus of control.
Seseorang yang memiliki internal locus of
control yakin bahwa mereka dapat mengontrol kejadian-kejadian dalam
hidunya, sebaliknya mereka yang memiliki external
locus of control meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidup mereka
merupakan efek dari faktor eksternal seperti nasib, keberuntungan, atau
kesempatan yang diberikan pada mereka (Nishanta, 2009).

4.  
Risk propensity

Kecenderungan untuk mengambil risiko didefinisikan
sebagai orientasi seseorang untuk mengambil kesempatan pada saat ia diharuskan
untuk membuat keputusan dalam kondisi yang tidak pasti (Nishanta, 2009).
Menurut Cantillion (1775, dalam Nishanta, 2009) faktor utama yang membedakan
wirausahawan dari pekerja adalah adanya uncertainty atau ketidakpastian
serta risiko yang diambil oleh para wirausahawan. Bila dihadapkan pada situasi
di mana mereka memiliki kontrol atau keterampilan untuk menghasilkan
keuntungan, wirausahawan akan lebih memilih untuk mengambil risiko untuk
mencapainya (Nishanta, 2009).

x

Hi!
I'm Jamie!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out