Dr. warga Indonesia yang tidak menyadari betapa pentingnya membaca,

Dr. Roger Farr (1984) menyebut
bahwa “reading is the heart of education”. Membangun Budaya Sadar Literasi Dr.
Ngainun Naim, dalam buku “Geliat Literasi (2015)”, dalam kata pengantarnya
menulis, bahwa untuk menciptakan kemajuan peradaban suatu daerah salah satunya
dengan menumbuhkembangkan tradisi literasi1.

Dalam konteks ini, generasi muda yang merupakan generasi pembelajar seharusnya dapat mengambil peran
aktif yang
menjadi motor penggerak untuk
melajunya budaya sadar literasi di lingkungannya masing-masing agar lebih massif. Tentang literasi, khususnya
menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis
dapat membuat pikiran seseorang lebih tertata, membuat seseorang bisa
merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau
membuat seseorang memiliki sugesti positif, membuat seseorang semakin pandai
memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, lebih
mengenali diri sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen
mengesankan yang dialami2,
meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi,
memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan
pengetahuan. Bahkan berdasarkan riset yang yang dilansir baru-baru ini di Eropa
bahwa dengan membaca dapat mengurangi dua kali risiko terserang penyakit
Alzheimer (pikun)3.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Artinya, budaya literasi
memang sangat penting, sehingga ketika generasi muda jauh dari budaya literasi,
jangan salahkan anak cucu, jika mereka lebih mengenal
Taylor Swift,
Demi Lovato, Justin Bieber, dan lainnya dibanding Soekarno, HOS Cokroaminoto, Agus Salim,
Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Tan Malaka, atau tidak tahu
sejarah bangsa dan tidak hafal pancasila. Hal itu bukanlah karena tidak ada
literatur yang mengulas seputar itu, namun, kebiasaan ini yang tidak ditanamkan
sejak dini. Di negara ini, kebanyakan orang membaca buku demi kepraktisan.

Kebanyakan orang membaca buku
agama karena ingin tahu cara masuk surge dan kebanyakan orang baca buku panduan bisnis karena ingin kaya. Padahal,
ada dimensi lain tentang membaca, yakni belajar empati dan perspektif4.
Masyarakat perkotaan bisa tahu soal kehidupan di desa, misalnya. Lewat baca
buku juga bisa mengetahuikrhidupan LGBT, misalnya, dan banyak hal lain yang
terjadi dalam hidup ini yang tidak terjadi pada kehidupan pribadi seseorang.
Pengakuan dan pandangannya mewakili kondisi banyak warga Indonesia yang tidak
menyadari betapa pentingnya membaca, terutama karya sastra. Tidak ada yang
mampu menyangkal tingkat literasi di Indonesia masih amat rendah.

a.     
Paradigma
Pendidikan

Frietz
R. Tambunan dalam nmenjelaskan bahwa kata pendidikan berasal dari kata Latin,
yaitu educare yang secara harfiah memiliki arti “menarik ke luar dari” sehingga dapat dijelaskan bahwa pendidikan merupakan sebuah aksi membawa peserta
didik keluar dari kondisi tidak merdeka, tidak dewasa, dan bergantung, ke suatu
situasi merdeka, dewasa, dapat menentukan diri sendiri, dan bertanggung jawab.

Pendidikan yang demokratis
tidak bertujuan menciptakan manusia siap kerja, tetapi membentuk manusia matang
dan berwatak yang siap belajar terus-menerus, siap menciptakan lapangan kerja (job creator), dan
siap mengadakan transformasi sosial karena sudah terlebih lebih dahulu mengalami transformasi diri lewat
pendidikan. Maka pendidikan adalah sebuah proses pedagogis di mana seorang
peserta didik dibebaskan dari ketidakmatangan dan kebodohan menjadi seorang
manusia matang, intelek, dan kultural.

b.      Guru sebagai Pendidik

Guru sebagai tenaga pendidik
dalam menyelenggarakan pendidikan, profesi guru telah mendapat pengakuan oleh
UndangUndang Sisdiknas No 20/2003 yang menyatakan bahwa:”Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, widyaiswara, pamong belajar, tutor, fasilitator,
instruktur, dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan pendidikan. Dalam Dictionary
of Education dinyatakan bahwa :

teacher is (1) a
person employed in an official capacity for purpose of guiding and directing
the learning experiences of pupil in an education institution, wether public or
private, (2) a person who because of rich or unusual experiences or education
or borh in given field is able to contribute to the growth and development of
other person who come in contrac with him. (3) a person who has cmpleted a
professional curriculum in a teacher education institutin and whose training
has been officially recognized by award of an appropriate teaching sertificate,
(4) a person who instructur5.

Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencaharian atau profesi)
mengajar (moeliono, 1988:288). Dalam UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 39
ditegaskan lagi bahwa Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi6.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
III

Penutup

 

A.    Kesimpulan

Kaidah keilmuan di atas
dipahami bahwa pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang telah diberi akal
oleh Allah Tuhan YME, sehingga dengan akalnya dia akan bisa mengembangkan
pengetahuan di muka bumi ini. Dengan kata lain, manusia pada hakekatnya adalah
makhluk yang diamanahkan oleh Allah SWT untuk menyelenggarakan pendidikan dengan
sungguh-sungguh. Semakin bagus kualitas pendidikan yang diselenggarakan tentu
akan mampu mengembangkan dan
meningkatkan segenap potensi
yang Tuhan berikan, dan pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan terhadap
keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

 

B.     Saran

Dari
uraian di atas dipahami bahwa
guru bukan hanya seseorang yang menjajakan materi pelajaran di depan kelas,
bukan sekedar transfer of knowledge,
melainkan tugas utama adalah sebagai pendidik profesional yang mampu memuliakan
kemanusian manusia sesuai dengan kaidah ilmu pendidikan.

1 Danim, Sudarwan. 2003. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar

2 Firdaus, LN. 2010, Powerful the Points of Guru, Pekanbaru, UNRI
Pres.

3 Sidi, Indra Djati. 2001. Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas
Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina

4 Jalaluddin dan Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep
dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Radja Grafindo Persada.

5 Suriasumantri, Jujun. S. 2003. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

6 Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

x

Hi!
I'm Jamie!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out